Aspek Religi Dalam Ritual Adat Dayak Kendayan

klinikabar.com, Aspek Religi Dalam Ritual Adat Masyarakat Dayak Kendayan, Pada awalnya manusia percaya kepada adanya kekuatan gaib yang dianggap lebih tinggi dan berpengaruh pada dirinya, suatu hal yang in foro externo. Kemudian dengan melakukan berbagai hal dan berbagai cara, manusia berusaha untuk dapat berkomunikasi dan mencari hubungan dengan kekuatan-kekuatan tersebut. Kesadaran ini menjadikan mereka percaya bahwa arwah para nenek moyang yang sudah meninggal mempunyai kekuatan dan dapat mempengaruhi kehidupan mereka.

Aspek Religi Dayak Kendayan



Gambar Aspek Religi Dalam Ritual Adat Dayak Kendayan


Religi atau sistem kepercayaan bagi kelompok etnik Dayak hampir tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai kebudayaan dan sosial ekonomi, sehingga begitu kompleks dan sangat berkembang yang mengandung dua hal prinsip, yaitu : Unsur kepercayaan nenek moyang (ancestral belief), dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Satu (the One God) dengan kekuasaan tertinggi yang merupakan suatu prima causa dari kehidupan manusia.

Aspek Kepercayaan Masyarakat Dayak Kendayan

Sistem kepercayaan ini muncul setelah manusia mulai merasa takut akan lingkunganya, seperti takut terhadap binatang buas atau pada manusia dari luar kelompoknya, juga takut akan kekuatan-kekuatan alam seperti hujan, angin, serta suasana malam yang gelap.

Kemudian, untuk mengungkapkan kepercayaan tersebut, manusia memakai lambang atau tanda yang pada umumnya berbentuk binatang yang ditokohkan sebagai makhluk yang menguasai dunia atau yang menghuni alam gaib di bumi, kemudian setelah mereka mengenal konsep hidup setelah mati, mereka me-mitos-kan arwah nenek moyang ini antara lain dengan lambang-lambang yang dianggap sebagai jelmaan nenek moyang dan perlu dihormati.

Rasa takut dan ketergantungan akan alam tersebut menimbulkan keterikatan antara kepercayaan dan alam yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Hal ini menyebabkan timbulnya sistem dualisme (bipartite system) yang membagi alam semesta atas dua hal atau dua golongan yang saling bertentangan, misalnya dunia atas dan dunia bawah, serta unsur-unsur laki-laki dan perempuan. Dunia atas merupakan unsur yang tertinggi yang dilambangkan dengan burung enggang sebagai manifestasi dari keberadaan hutan. Dunia bawah dilambangkan oleh naga yang dimanifestasikan sebagai dewi kesuburan.

Sebagai salah satu bentuk masyarakat tradisional, masyarakat Dayak seperti halnya masyarakat tradisional lainnya, misalnya masyarakat Baduy di Jawa Barat, orientasi utama dalam kepercayaan mereka adalah hutan. Masyarakat Dayak beranggapan bahwa hutan merupakan penjelmaan dari Tuhan atau wakil dari Tuhan, sehingga mereka menyimbolkan hutan dalam bentuk burung enggang yang menguasai hutan dan segala isinya.

Hal ini disebabkan karena hutan merupakan basis utama dari kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik yang berlaku pada masyarakat Dayak. Oleh karena itu, tanah atau hutan (yang menjadi tanda atau lambang kesuburan) sebagai suatu sistem nilai ditanamkan dan dikukuhkan pada setiap anggota masyarakat Dayak. Hal tersebut karena adanya kesadaran bahwa kelanjutan hidup manusia tergantung dari kesuburan, yaitu daya dukung tanah dan kemampuan benih untuk membuahkan padi sebagai sumber makanan utama mereka.

Religi dan kehidupan masyarakat saling mempengaruhi, religi merupakan suatu kekuatan yang dapat "menggerakkan" suatu masyarakat dalam melakukan sesuatu hal yang mereka yakini kebenarannya, seperti melakukan berbagai upacara ritual adat berdasarkan kepercayaan mereka. Namun demikian kehidupan masyarakat saling mempengaruhi keberadaan suatu religi, karena tanpa adanya masyarakat yang menjadi pendukung sistem kepercayaan maka tidak akan ada religi yang menjadi pedoman hidup masyarakat.

Seperti halnya yang bisa dilakukan pada upacara adat atau ritual lainnya dalam melaksanakan upacara naik dango, dibutuhkan masyarakat pendukung serta seperangkat aturan (yang terdapat dalam sistem kepercayaan mereka), yang menjadi acuan dalam pelaksanaan upacara adat tersebut. dalam hal ini, masyarakat dalam sistem kepercayaan mereka terdapat pandangan yang sangat diyakini bahwa mereka menjalankan kehidupan agraris berdasarkan kepercayaan terhadap tanah sebagai sumber kesuburan.

Penutup

Dengan melaksanakan upacara naik dango, masyarakat Dayak Kendayan selalu mengingat dan bersyukur kepada Jubata sebagai pemberi rezeki dan mengandung doa serta harapan agar dimasa mendatang mereka tetap diberikan kesehatan, keselamatan serta hasil panen yang melimpah. Sementara jika upacara tersebut dilaksanakan, mereka serta daerah tempat tinggal mereka akan tertimpa bencana, serta panen yang dihasilkan dalam bertahun-tahun tidak akan berhasil.

Baca Juga Situs Sejarah Di Desa Hatasua Kabupaten Seram, Maluku

Source : Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel