Apa Itu Total Mind Learning (TML)

klinikabar.com, Total Mind Learning merupakan pembelajaran revolusioner yang memberikan arti baru pada kata "belajar". Total mind learning tidak hanya mengajak individu untuk menggunakan berbagai potensi yang selama ini belum termanfaatkan, namun juga memperluas arti pembelajaran itu sendiri. Salah satu faktor penyebab kurang optimalnya pembelajaran adalah karena pembatasan ruang lingkup pembelajaran, pembelajaran hanya sebatas membaca buku atau mendengar pengajaran atau kuliah. Dengan memperluas ruang lingkup pembelajaran, kembali lagi memungkinkan individu untuk menggunakan berbagai potensi yang belum digunakan selama ini, hanya berujung pada optimalisasi hasil pembelajaran.

Total Mind Learning (TML)


Gambar Apa Itu Total Mind Learning (TML)


Total mind learning (TML) merupakan solusi dari kurang optimalnya pembelajaran konvensional. Setiap manusia yang dilahirkan di muka bumi dilengkapi dengan berbagai potensi pada pikiran bawah sadar,namun sayangnya pada praktik pembelajaran keseharian penggunaannya sangat jauh optimal. Hal ini tercermin dari berbagai kesulitan yang muncul pada pembelajaran, seperti kesulitan memusatkan perhatian atau kesulitan mengingat, yang berujung pada rendahnya hasil pembelajaran.

Utamanya pada saat disekolah, kondisi ini masih diperburuk pula oleh praktik pembelajaran yang keliru yang seolah telah dianggap sebagai jawaban atas kondisi rendahnya hasil pembelajaran, seperti yang tercermin pada praktek tambahan (beban) pembelajaran, baik di dalam maupun di luar sekolah, yang hanya sebatas repetisi dari proses pembelajaran sebelumnya di sekolah dan tidak membawa nilai tambahan bagi pemahaman siswa.

Program yang semula ditujukan untuk membantu meningkatkan pemahaman siswa, justru pada kenyataannya menjadi kontraproduktif, ketika siswa justru mengalami kelelahan dan kejenuhan akibat praktik pembelajaran yang kurang atau tidak tepat.

Dalam konteks Total Mind Learning (TML), pembelajaran mendapatkan arti yang jauh lebih luas. Di setiap saat dan di setiap tempat semua makhluk (tidak hanya manusia) di muka bumi belajar, karena belajar merupakan suatu proses alamiah. Semua makhluk belajar menyikapi berbagai stimulus dari lingkungan sekitar untuk mempertahankan hidup.

Ivan Pavlov menerangkan dengan sangat baik mengenai hal ini ketika melakukan eksperimen dengan anjingnya. Ketika Ivan Pavlov memberikan makanan pada seekor anjing disertai dengan stimulus bebunyian, setelah beberapa saat setiap kali anjing tersebut mendengar bunyi, ia meresponnya sebagai "tanda saatnya untuk makan (yang ditandai dengan berliur). Serupa dengan eksperimen Ivan Pavlov, jika anda melilitkan kawat pada satu sebagian dari tanaman (umumnya pada pembuatan tanaman bonsai) segera setelahnya tanaman tersebut belajar untuk tumbuh mengikuti bentukan dari kawat yang anda lilitkan. Hal tersebut membuktikan bahwa hewan dan tumbuhan juga melakukan proses pembelajaran.

Seperti yang telah diuraikan di atas, pembelajaran tidak hanya dibatasi pada membaca buku atau mendengar pengajaran atau kuliah yang tidak memberikan pemahaman. Ketika seorang individu memiliki fobia misalnya, ia juga menunjukkan suatu hasil pembelajaran. Pikiran manusia bekerja secara asosiatif, setiap kali terjadi pembelajaran terjadi penghubungan (asosiasi) antar satu informasi dengan informasi yang lain. Dalam kaitannya dengan fobia, individu belajar untuk menghubungkan suatu stimulus, hal yang ditakuti, dengan respon tertentu misalnya ketakutan.

Proses yang sama juga terjadi ketika individu mengalami trauma. Banyak terapi efektif yang berguna untuk menangani trauma dan fobia, didasarkan pada kerangka kerja asosiasi di pikiran, sehingga hal yang dilakukan pada sesi terapi adalah "mengajarkan" kembali pada individu yang bersangkutan untuk tidak mempelajari mengenai fobia atau trauma yang dialaminya (belajar untuk tidak mempelajari).

Sebagai tambahan, selain pembelajaran berkaitan dengan kasus fobia dan trauma, semua makhluk juga melakukan pembelajaran di tingkat seluler. Hal ini sangat jelas pada fenomena evolusi, baik itu pada hewan atau pun pada tumbuhan. Demikian pula dengan manusia jelas teridentifikasi, trauma dalam kasus alergi. Alergi merupakan suatu bentuk pembelajaran di tingkat seluler.

Masa kini merupakan saat dimana belajar menjadi lebih penting dan juga lebih mudah dibandingkan masa sebelumnya. Hal ini tentunya bukan berarti belajar tidak dibutuhkan dimasa lampau. Kemajuan teknologi informasi, komputer, dan internet sekarang ini telah menyebabkan informasi dapat tersedia dalam julah yang tidak terbatas, cepat, dan dengan akses yang mudah.

Usia produk tersedia di pasaran semakin singkat, apa yang ada sekarang, telah menjadi sejarah di keesokan harinya. Berbagai jenis pekerjaan datang dan pergi, yang sebelumnya tidak terpikirkan menjadi kenyataan. Perubahan terjadi dimana-mana, pada setiap aspek dengan laju yang sangat kilat. Dunia selalu berubah dalam hitungan detik. Berubah atau diubah kini menjadi pilihan. Untuk terus dapat berselancar di atas gelombag perubahan yang cepat dan tidak ditenggelemkan olehnya, individu perlu belajar secara efektif dan efisien. Kemampuan individu dalam mengambil, memroses, dan menyiapkan informasi tentu sangat berkaitan dengan kemampuannya untuk terus bertahan hidup di muka bumi.

Kemampuan belajar merupakan alat andalan dalam mempertahankan kehidupan. Ironisnya, kenyataan di lapangan tidak berkata demikian. Bagi sebagian individu, belajar merupakan suatu beban. Banyak ditemui siswa yang kelelahan hanya untuk sekedar mendapatkan prestasi rendah. Sedemikian rendahnya hingga mereka sendiri akhirnya bertanya "Apa saya mampu untuk terus belajar di tempat ini?" Semakin banyak yang ditemui berbagai hambatan psikologis yang berkaitan dengan belajar tersebut, sebut saja salah satunya yang berkaitan dengan didaskaleinophobia (fobia terhadap sekolah).

Mengacu pada uraian diatas, hal ini menunjukkan respon dari suatu stimulus yang dapat dikelompokkan sebagai salah satu bentuk pembelajaran, dalam hal ini individu tersebut belajar untuk menakuti belajar. Belum lagi ditambah dengan berbagai kesulitan teknis lainnya, seperti kemampuan mengambil, memroses, dan mengingat informasi dengan sangat terbatas, sehingga satu-satunya pertanyaan sekarang ini yang terungkap adalah bagaimana meningkatkan kemampuan belajar, karena jika tidak, maka pilihannya tentu adalah ikut menjadi fosil seperti Brachiosaurus dan rekan-rekannya di masa prasejarah.

Banyak faktor yang berkontribusi pada kurang optimalnya pembelajaran, seperti ketidakmampuan menggunakan semua potensi yang dimiliki atau praktik pembelajaran yang kurang optimal. Untuk berbagai hal itulah, maka kita butuh mempelajari konsep pembelajaran komprehensif yang revolusioner, Total Mind Learning.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel