Pembelajaran Anatomi Emosi

klinikabar.com, Anatomi Emosi berkaitan dengan stres, stres sangat berhubungan dengan pembelajaran. Stres dibutuhkan pada pembelajaran pada proporsi tertentu. Ketika pembelajaran terlalu mudah dengan menonton, maka pembelajaran dapat menjadi sangat membosankan. Demikian pula sebaliknya, ketika pembelajaran disertai dengan terlalu banyak stres, misalnya berupa ancaman, maka pembelajaran akan beralih menjadi kecemasan.

Bagaimana Kaitan Antara Stres, Emosi Dan Pembelajaran


Gambar Pembelajaran Anatomi Emosi


Stres dalam level tertentu sangat dibutuhkan dalam pembelajaran. Level penanganan stres pada masing-masing individu sangat beragam. Guna mencapai hasil terbaik dari pembelajaran, pastikan individu memahami level stres yang mampu ditanganinya.

Emosi sangat erat kaitannya dengan pembelajaran. Kembali lagi konteks pembelajaran yang dimaksudkan disini merupakan pembelajaran dalam artian yang lebih luas, tidak hanya sebatas membaca buku saja atau tidak hanya mendengarkan penjelasan di dalam kelas, melainkan mencakup pula berbagai bentuk pembelajaran lai dalam kehidupan, mulai dari membiasakan diri terhadap pola tertentu hingga pembelajaran tingkat seluler.

Berkenaan dengan pembelajaran formal yang dijumpai di sekolah, emosi sangat membantu pengingatan atas informasi tertentu yang ingin di ingat. Informasi yang memiliki kandungan emosional cenderung lebih mudah diingat karena memberikan excitement bagi pikiran untuk memprioritaskan perhatian padanya. Tentu anda dapat mengingat dengan mudah berbagai kejadian emosional yang pernah anda alami, baik yang ekstrim positif (sangat menggembirakan, sangat menyenangkan) ataupun yang sangat ekstrim negatif (sangat menyedihkan, sangat mengecewakan).

Memahami tentang emosi dan pembelajaran anatomi stres sangat membantu dalam mengoptimalkan pembelajaran pada individu ketika ia tidak perlu belajar dengan sulit, karena semua informasi yang dipelajari dapat diingat secara alami dan untuk periode yang panjang (bahkan permanen). Guna memahami emosi lebih lanjut, berikut diuraikan penjelasan mengenai emosi berkaitan dengan proses yang terjadi di otak.

Anatomi Emosi

Pada umumnya orang sangat antusias dengan pembahasan emosi terkait dengan pembelajaran, mulai dari peran emosi dalam pembelajaran, mekanisme pengendalian emosi, hingga kecerdasan emosional. Bagian ini ditunjukkan dengan pembahasan yang lebih mendalam mengenai emosi dan kaitannya dengan pembelajaran.

Di otak, bagian yang sangat berkaitan langsung dengan emosi adalah amygdala (bahasa latin untuk kacang almond), karena bentuknya yang hampir menyerupai kacang almond. Otak manusia memiliki dua amygdala yang ukurannya relatif lebih besar dibandingkan primata lainnya. Adapun neuroscientist yang pertama kali menemukan fungsi otak manusia adalah Joseph LeDoux (Centre for Neural Science, New York University).

Pada hewan yang amygdala-nya dirusak mengalami kehilangan motivasi untuk bersaing ataupun bekerjasama. Sebagai tambahan, hal ini mengakibatkan pula binatang kehilangan pengenalan posisinya pada kelompoknya, sehingga menjadi sangat pasif pada kelompoknya. Amygdala dapat mengorkestrasi emosi secara independen, terlepas dari peran ne0-cortex.

Joseph LeDoux menyatakan bahwa amygdala juga berperan pada pembentukan memori yang identik dengan emosi tertentu. Ia mendapatkan kesimpulan ini setelah melakukan eksperimen dengan tikus. Yang berguna mencegah intervensi dari efek Pavlov (fenomena anjing yang mengidentikkan suara bel dengan waktu makan) dalam artikel Eksperimen Pavlov

Joseph LeDoux menghancurkan korteks pendengaran dari tikus tersebut, sehingga ia tidak dapat mempelajari suara yang didengarnya. Lalu tikus tersebut diperdengarkan suara yang kemudian diasosiasikan dengan kejut listrik, hasil eksperimennya memberikan hasil bahwa tikus tersebut tetap mampu mengenali suara bel, hal ini didasarkan pada reaksi takut saat bel berbunyi. Tikus mengenali suara bel dengan mengandalkan sepenuhnya pada fungsi amygdala. Hal ini berarti, otak dapat mengingat emosi yang pernah dialami sebelumnya.

Amygdala merupakan bagian otak yang berfungsi sebagai tempat menyimpan memori yang berkaitan dengan emosi. Pada individu yang amygladanya diambil untuk alasan medis, individu tersebut menjadi kurang tertarik kepada individu lain. Walaupun ia masih dapat berkomunikasi dan menjalani berbagai tes kognitif, namun pengenalannya pada kerabat, teman, bahkan ibu biologisnya menjadi sangat buruk. Eksperimen untuk kondisi menjadi pasif. Pengenalannya pada  kadar emosi dari satu kejdian menjadi sangat minim. Kondisi ini disebut sebagai effective blindness. Wajar saja jika individu ini tidak dapat menangis, karena untuk dapat menangis, amygdala perlu memicu struktur sekitarnya hingga dikeluarkan air mata. 

Baca Juga Proses Air Mata

Pada saat individu dilanda emosi, marah misalnya, besar kemungkinan ia melakukan tindakan yang irasional. masih ingat dalam benak kita beberapa kejadian yang kita lihat di Televisi tentang kejadian bunuh diri karena putus cinta, atau masih ingatkah anda tentang terakhir kali anda marah dan berbagai keputusan atau tindakan yang anda lakukan saat itu? apa pun tindakan atau keputusan yang diambil saat marah, pada kebanyakan kasus merupakan tindakan atau keputusan yang kurang optimal. Hal ini ditandai dengan penyesalan yang biasa datang setelah dijatuhkannya suatu keputusan atau tindakan tersebut.

Untuk mencegah hal itu terjadi pada anda, setidaknya agar anda dapat mengendalikan diri saat anda emosi, anda perlu memahami mekanisme apa yang terjadi saat anda sedang dilanda emosi.

Pada kondisi emosional, amygdala memegang peranan yang sangat menentukan. Hal ini disebabkan karena amygdala memindai semua informasi yang masuk melalui panca indra dengan satu pertanyaan yang sangat sederhana (bahkan primitif) seperti : "Apakah ini merupakan hal yang saya benci?". "Saya takuti?" dan lain-lainnya. Jika jawaban atas pertanyaan tersebut "Ya", maka tahap selanjutnya amygdala mengirim sinyal ke semua bagian otak untuk siaga. Jika dianalogikan dengan manusia, amygdala merupakan bagian yang menyalakan alarm ketika terjadi suatu kejadian dan langsung menghubungi pihak terkait seperti pemadam kebakaran, ambulan dan polisi.

Ketika terjadi suatu kejadian yang memicu emosi, katakanlah misalnya takut, hal ini yang terjadi kemudian adalah amygdala mengirim pesan ke semua bagian otak, sehingga memicu keluarnya hormon yang berkaitan dengan reaksi paling primitif, lawan, atau lari. Hal ini dilakukan dengan cara memicu pusat pergerakan, mengaktifkan sistem kardiovaskuler, menyiagakan otot lainnya.

Selain itu, amygdala juga memicu dikeluarkannya neurotransmitter norepinephrine untuk meningkatkan reaksi dari area otak utama, sehingga pancaindra menjadi lebih siaga. Amygdala juga mengirim pesan ke batang otak, sehingga memunculkan ekspresi takut, ketegangan, meningkatkan laju detak jantung yang meninggikan tekanan darah, dan membuat nafas menjadi lebih cepat dan dangkal.

Penelitian yang dilakukan oleh LeDoux mengindikasikan bahwa aliran informasi yang diterima dari pancaindra terpecah menjadi dua jalur. Satu jalur menuju Thalamus berlanjut ke neo-cortex, sementara  jalur yang lain mengarah ke amygdala. Jalur langsung dari thalamus ke amygdala terdiri atas rangkaian neuron yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan pada jalur yang menghubungkan thalamus dengan neo-cortex.

Sebagai ilustrasi pada tikus, rute antara thalamus ke neo-cortex panjangnya dua kali lebih panjang dibandingkan rute dari thalamus ke amygdala. Laju informasi dari thalamus ke amygdala dapat berkisar 12/1000 detik (lebih singkat dari satu hela napas). Arsitektur ini yang kemudian memungkinkan amygdala dapat merespon lebih cepat (bahkan sangat kilat) sebelum neo-cortex menerima dan menggali keseluruhan informasi yang dikirim dari thalamus. 

Amygdala sangat dibutuhkan, utamanya ketika anda harus bereaksi cepat. Bayangkan ketika rumah anda kebakaran, tentu anda langsung bereaksi cepat dan bergerak melakukan hal apa yang perlu dilakukan dibandingkan menganalisa apa yang sebenarnya tengah terjadi. Ketika amygdala tengah memicu munculnya reaksi cepat yang impulsif, bagian lain dari otak emosional membenarkan kondisi tersebut. Bagian lain yang membenarkan kondisi reaksi impulsif tersebut adalah prefrontal lobes yang terletak tepat di belakang kening anda. Prefrontal cortex bekerja ketika anda berada pada kondisi emosional, sehingga anda tetap dapat mengatur respon, walaupun sedang berada pada kondisi emosional.

Baca Juga Apa Itu Total Mind Learning (TML)

Kesimpulan

Dari thalamus sebagian besar informasi mengalir ke neo cortex dibandingkan ke amygdala. Kembali lagi, bagian yang mengatur aliran informasi tersebut adalah prefrontal lobes. Ketika ada suatu kejadian yang tidak diinginkan, prefrontal lobes melakukan penimbangan untung dan rugi atas respon yang akan dilakukan. Pada binatang, responnya sangat terbatas, lawan atau lari. Pada manusia, alternatif responnya jauh lebih banyak, lawan, negosiasi, diskusi, merayu, dan yang lainnya. Sama seperti amygdala,ketiadaan prefrontal lobes membuat individu tidak memiliki aspek emosional dalam hidupnya.

Itulah yang menyebabkan individu dapat merespon sedemikian cepat dan sigapnya tanpa sempat memikirkan terlebih dahulu? Bayangkan ketika seorang menginjak aki anda, tentu dengan sangat cepat anda akan merespon, mungkin dengan marah, berteriak, atau yang lainnya.

Baca Juga Sistem Otak Dan Pembelajaran

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel