Makna Keluarga Di Zaman Modern

klinkabar.com, Makna Keluarga Di Zaman Modern - Di zaman sekarang ini banyak yang mengatakan bahwa keluarga tidak lagi memiliki makna, keluarga bukan lagi institusi tunggal dalam sosialisasi nilai. Keluarga, sebuah konsep yang sangat populer menjadi perbincangan, baik di rumah-rumah, kedai kopi pinggir jalan, maupun pokok bahasan dalam seminar, pidato kenegaraan, dan diskusi-diskusi ilmiah. 

Bagaimana Makna Keluarga Di Zaman Modern


Gambar Makna Keluarga Di Zaman Modern


Fenomena tentang makna keluarga bisa menjadi refleksi betapa keluarga sebagai institusi sosial terkecil memegang peranan cukup penting dalam kehidupan masyarakat dan bangsa. Betapa tidak, keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kualitas individu. Ini bukan pernyataan berlebihan tanpa dasar. Keluarga merupakan agen sosialisasi nilai paling primer.

Dengan kata lain, makna keluarga dalam hal menentukan kepribadian maupun identitas diri seseorang sangat dipengaruhi oleh sosialisasi nilai yang ia dapat dari keluarganya. Denan demikian, seseorang bisa menjadi pesona yang baik maupun yang buruk sangat tergantung pada baik atau tidaknya lingkungan keluarga tempat bernaung. Individu yang baik akan memberikan kontribusi positif bagi masyarakatnya, begitu pula sebaliknya.

Keluarga merupakan landasan bagunan masyarakat, sehinga kebangkitan atau keruntuhan keluarga akan berdampak besar pada masyarakat. Generasi-generasi yang tumbuh dalam keluarga memiliki andil besar dalam membangun masyarakat, sehingga individu yang baik akan memberikan sumbangsih positif bagi masyarakatnya, bahkan lebih luas lagi, bagi negaranya. Keluarga berperan penting dalam memperbaiki masyarakat yang mengurangi penyimpangan sosial.

Melihat hal demikian besarnya makna keluarga dan peran keluarga, maka tidak mengherankan bila kondisi sosial masyarakat sangat bergantung pada apa yang terjadi dalam keluarga. Maka tidak berlebihan bila pemerintah kerap melibatkan pembangunan keluarga sebagai integral dari pembangunan negara.

Pergeseran Makna Keluarga Di Zaman Modern

Kini telah terjadi pergeseran makna keluarga. Pergeseran dalam konteks pananaman nilai-nilai dalam keluarga yang berbeda. Dulu, sosialisasi agama maupun nilai-niai kehidupan tentang baik dan buruk dominan terjadi dalam keluarga. Dalam hal ini, keluarga berperan tungal menjadi agen sosialisasi primer, dan memiliki posisi sangat kuat. Namun kini telah terjadi pergeseran.

Kendati sosialisasi makna keluarga masih dilakukan, namun posisinya tidak sekuat dulu. Masalahnya, ada institusi lain yang juga berperan dalam sosialisasi dan nilai, yaitu lingkungan dan media massa. "Di zaman sekarang, orangtua memanggil guru ngaji untuk dapat mengajarkan mengaji pada anak-anaknya, sedangkan dahulu, kita dijarkan mengaji oleh orang tua," maka tidak heran ketika di zaman sekarang ini bayak para orang tua yang tidak mengerti bacaan juz'amma, tetapi anak-anak mereka pandai. Disini peran orang tua berkurang, diambil alih oleh institusi lain di luar keluarga.

Jadi kini tidak usah heran lagi bila pengetahuan tentang nilai-nilai, baik itu nilai positif maupun nilai negatif lebih banyak didapatkan dari luar keluarga. Impilkasinya, kepercayaan anak terhadap orangtua menjadi berkurang, hal ini disebabkan oleh nilai-nilai yang ditanamkan daam keluarga dan institusi lain di luar keluarga berbeda, bahkan tidak jarang saling bertentangan. Conthnya saja, di dalam keluarga dan di dalam rumah orang tua melarang anaknya untuk tidak merokok, tapi dilingkungan menanamkan nilai tidak macho bila tidak merokok mendukung pendapat tersebut. Maka timbul lah dilema. Kondisi ini membuat penghargaan anak kepada orang tuanya berkurang.

Yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah merasuknya nilai-nilai matrealistis dalam keluarga : Globalisasi disebut-sebut berperan besar menyumbangkan budaya kapitalis yang mendorong konsumerisme. Implikasinya, dibanding zaman ibu dan bapak kita dahulu, kini masyarakat cenderung matrealistis. Kekayaan material ditempatkan sebagai prioritas hidup keluarga. Tekanan konsumerisme juga berdampak pada kecenderungan para ibu ikut mencari nafkah semata untuk memenuhi kebutuhan sekunder.

Nilai-nilai matrealistis tidak hanya merasuki orangtua, tetapi juga anak-anak. Kini reward yang diminta anak-anak cendrung bersifat materi. Dan berpendapat, merebaknya konsumerisme dalam masyarakat tdak lepas dari peran media massa dalam mensosialisasikan budaya materialisasi. Lihat saja parade rumah mewah dan kehidupan glamor dalam acara televisi dan media sosial.


Kesimpulan

Sebuah realita yang juga tidak dapat dipungkiri sebagai bentuk pergeseran makna keluarga adalah mulai menggejalanya gaya hidup bersama tanpa ikatan pernikahan (samen laven). Dalam konteks ini, makna keluarga adalah kehidupan bersama dua pihak. Jadi, keluarga tidak heran dengan sebuah pernikahan.

Dapat dibayangkan betapa besarnya tantangan dalam membangun keluarga di abad modern ini, terlebih lagi menjaga keutuhan keluarga, tidak hanya masalah hubungan antara orangtua dan anak, tapi juga antara suami dan istri. Dengan demikian, untuk membangun keluarga sakinah dalam era modern ini bukanlah perkara mudah. Berbeda dengan dahulu, gangguan-gangguan dalam upaya membentuk keluarga sakinah sangat minim. Meski sulit, tidak berarti mustahil untuk diwujudkan. Kuncinya adalah kembali pada agama. Karena, hanya agama yang dapat membentengi kita dan keluarga kita dari hal-hal yang tidak kita inginkan yang dapat merusak keutuhan dari makna keluarga yang sesunguhnya.

Baca Juga 5 Kalimat Sakti Yang Harus Dikatakan Pada Anak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel