Museum Mata-Mata Yang Dibangun Keith Melton

klinikabar.bom, Museum Mata-Mata Keith Melton Di Jerman - Keith Melton membangun sebuah museum dengan koleksi memorabilia dunia spionase terlengkap di dunia. dimana lokasinya? Rahasia!. Selasa sore, Keith Melton ditelepon seseorang. Kamis malam, dengan mata yang masih mengantuk, dia sudah tiba di Munich, Jerman. Dia diberitahu untuk menemui seseorang yang menenteng koran di tangan kiri dan pipa tembakau di tangan kanan. Akhirnya terlihat oleh Melton, seorang pria setengah baya bertubuh besar dan berpakaian kumal yang sesuai dengan ciri-ciri yang diberikan.

Museum Spionase Di Jerman


Gambar Museum Spionase Di Jerman


Orang tersebut menyuruh Melton naik ke mobil yang telah menunggu dan langsung melesat pergi. Dua jam kemudian,mereka menuju ke daerah pedesaan khas Bavaria memasuki lahan parkir yang sepi. Disana sudah menunggu sebuah kendaraan lain. Lampu sorot menyala sebagai tanda dan mobil itu kemudian berhenti. Ketika bagasinya dibuka, di dalamnya terdapat sebuah mesin dengan kondisi mulus se ukuran koper. Jantung Melton berdebar sangat cepat. Sudah bertahun-tahun dia memburu mesin yang menggemparkan dunia spionase itu. Kini akhirnya, mesin istimewa yang mengubah skenario berbagai peristiwa di dunia menjadi miliknya.

Museum Mata-Mata Yang Dibangun Keith Melton

Melton bukanlah seorang mata-mata, dan mesin yang dijuluki Enigma sudah tidak berfungsi lagi sejak sekitar setengah abad yang lalu. H. Keith Melton adalah kolektor utama benda-benda tradecraft, istilah yang digunakan dalam teknik dan prosedur dunia spionase. Malam itu, Melton berhasil mendapatkan mesin pembuat kode rahasia yang paling langka di dunia. Mesin tersebut berupa alat elektomekanis yang menyerupai mesin ketik.

Pada Perang Dunia II, sebuah tim asal Inggris pimpinan Alat Turing berhasil memecahkan kode rahasia Enigma itu yang rumit sehingga pasukan sekutu berhasil ribuan komunikasi rahasia militer Jerman. Keberhasilan membongkar kode rahasia Enigma itu dianggap sebagai salah satu faktor penentu kemenangan pasukan sekutu dalam Perang Dunia II. Sekutu, misalnya berhasil mengetahui lokasi kapal-kapal selam Angkatan Laut Jerman sehingga memuluskan usaha memenangkan Perang Atlantik. Pemecahan kode Enigma itu sangat dirahasiakan sehingga baru diketahui oleh umum 30 tahun kemudian.

Jangan heran kalau ternyata Melton tidak hanya punya satu, tapi dua Enigma dari sedikit mesin Enigma yang masih ada di seluruh dunia. Melton memang membanggakan dirinya sebagai kolektor peralatan spionase terlengkap di dunia. Tidak satu pun museum milik pemerintah yang mampu menandingi keragaman koleksinya, bahkan Museum CIA di Langley, Virginia, yang mengoleksi benda-benda spionase cukup lengkap, terpaksa meminjam lebih dari 500 benda koleksi Melton untuk perayaan peringatan Hari Ulang Tahun ke-50 dinas rahasia Amerika itu di tahun 1997.

Melton mulai mengoleksi benda-benda spionase sejak 30 tahun yang lalu. Saat itu, tidak ada tempat khusus untuk mempelajari dan menyimpan berbagai benda yang berhubungan dengan dunia spionase. "saya yakin, kalau tidak ada yang merawat, benda-benda tersebut bisa hilang ditelan waktu. Bukan hanya itu saja, cerita dan sejarah di balik setiap benda yang bisa lenyap. Malah, kisah-kisah mereka yang menciptakan dan menggunakan benda-benda itu tidak akan pernah terungkap karena harus dirahasiakan.". 

Di museum milik Melton di selatan Florida, terdapat 2.000 artefak dari total 7.000 benda-benda spionase koleksinya. Disamping itu, dia juga mengoleksi sekitar 6.500 buku dan 30.000 foto. Museum mata-mata tersebut telah menarik perhatian begitu banyak agen intelijen dari seluruh dunia. Sayangnya museum ini masih dirahasiakan dan tertutup untuk umum. Melton pun enggan memberitahukan lokasinya. Di depan pintu masuk museum itu terdapat sebuah kandang burung yang ternyata kamera pengintai tersembunyi.

Suasana Di Dalam Museum Mata-mata Milik Melton

Masuk ke dalam museum Melton seperti kita melihat dunia lain. sangat berbeda dengan cuaca cerah dan rimbunnya pepohonan palem di Florida. Ruang perpustakaan dengan perabotan kayu berwarna gelap, karpet bercorak oriental, dan rak-rak buku yang tingginya mencapai langit-langit. Sekilas perpustakaan itu lebih menyerupai sebuah klub kaum pria elit zaman Raja Edward. Saat Melton menyalakan lampu, barulah terlihat 56 kotak tempat Melton memajang barang-barang yang dulu sangat dijaga kerahasiaannya.

Di dalam museum tersebut terdapat benda yang mirip kayak. Benda tersebut ternyata kapal selam berkapasitas satu penumpang yang dibuat oleh Special Operation Executive (Badan Operasi Khusus) Inggris selama Perang Dunia Kedua.

Kapal selam itu dirancang untuk membawa penyelundup berpakaian katak menuju pelabuhan milik musuh. Sebelum berenang ke tepi pantai, penyelam tersebut dapat "memarkir" kapal selam yang digerakkan mesin itu di dasar laut. dari 100 kapal yang pernah dibuat, hanya ada tiga buah yang masih tersisa sampai kini.

Sejarah sleeping Beauty, julukan untuk kapal selam itu, terdengar mengerikan. Di tahun 1944, Sleeping Beauty digunakan pihak Inggris dalam suatu operasi di Singapura. Namun Operasi tersebut terungkap dan awaknya dibunuh. Dua aksi spionase lain yang menggunakan Sleeping Beauty statusnya sampai kini masih dirahasiakan.

Melton membeli Sleeping Beauty dari seorang pria yang tinggal di pinggiran New Yorks. Melton sendiri yang bertransaksi, mengangkut Sleeping Beauty ke atas truk dan membawanya pulang. Begitulah rutinitas sehari-hari bagi pria bertutur kata lemah lembut yang mengenyam pendidikan teknik di Akademi Angkatan Laut Amerika Serikat, dan sempat bertugas di Vietnam.

Sebagai seorang usahawan sukses di bidang jasa boga, Melton juga mengajar di Centre for Counterintelligence and security Studies di Alexandria, Virginia. Melton juga telah menulis empat buku tentang spionase.

Karena tidak ada tempat khusus untuk berjual-beli benda-benda spionase, mau tidak mau Melton harus membangun sendiri jaringan kontak dengan para pemasok. Benda-benda koleksi didapat dari sumber beragam, mulai dari kalangan pensiunan agen intelijen, sampai tukang tadah. Politik bukanlah tujuan Melton mendirikan museum itu sehingga semua koleksi yang dia miliki murni berhubungan dengan teknologi dan prosedur yang dipakai dalam spionase, bukan ideologi sebuah negara "jika saya datang ke Berlin untuk menemui seorang mantan anggota Stasi (polisi rahasia di eks Jerman Timur), saya hanya mau berdiskusi tentang teknik mata-mata Stasi, bukan membahas politik Perang Dingin," kata Melton.

Perjuangan Melton dalam mendapatkan benda-benda spionase selalu menarik. Mesin Enigma kedua miliknya ditemukan secara tidak sengaja di sebuah garasi mobil di kota New Jersey. Melton malah pernah nekat menyelundupkan sebuah benda kecil keluar dari Uni Soviet dengan mengulumnya di dalam mulut Melton. Meskipun demikian, terlihat keengganan Melton untuk menceritakan asal-usul beberapa benda koleksinya.

Melton sadar, menyingkap secara detail asal-usul sebuah artefak dapat membahayakan keselamatan si pemasok barang sekaligus jaringan penelusuran barang bekas yang dibangun. Meskipun museum itu sudah dibuka untuk kalangan tertentu pada tahun 1998, persiapannya memakan waktu hampir tiga dekade.

"Saya mengawalinya tidak dengan mengumpulkan benda-benda spionase, tapi dengan mempelajari seluk-beluk dunia spionase". Menurut Melton, James Bond yang dianggap banyak orang sebagai mata-mata yang ideal, adalah contoh yang salah dalam penggambaran seorang agen rahasia. "Di dunia spionase yang sebenarnya, agen rahasia seperti James Bond tidak akan terpakai, " ujar Melton. 

Menurut Melton, cara kerja agen rahasia 007 itu benar-benar tidak efektif. Bond bukannya merekrut agen mata-mata lawan dan mencari informasi tentang musuh sebanyak-banyaknya, tapi Bond malah asyik menggoda wanita dan membunuh lawannya. "Bukan agen mata-mata namanya kalau sudah menggunakan senjata, " ungkap Melton, mengutip ucapan pensiunan KGB, "Mata-mata tidak pernah saling membunuh (secara terang-terangan)." 

Dunia Intelijen adalah sebuah dunia terselubung, dan senjata api bukanlah senjata api bukanlah senjata utama para mata-mata. Itulah sebabnya mengapa museum Melton hanya memiliki sedikit koleksi senjata api. Tapi soal koleksi dokumen rahasia, jumlahnya mencapai ratusan! Tidak heran jika di dunia intelijen, informasi yang merupakan inti dari setiap operasi spionase menjadi sangat berharga, sekaligus saat paling berbahaya bagi seorang mata-mata.

Sejumlah peralatan yang dirancang untuk menyembunyikan dokumen sangat rahasia dirumah atau pun penyelundupan melewati perbatasan negara, menunjukkan kecerdasan dalam dunia spionase. Salah satu koleksi yang terdapat di museum milik Melton, berupa imitasi bola mata yang terbuat dari kaca. Peninggalan Perang Dunia I. ola mata palsu berwarna kecoklat-coklatan itu memiliki pembuluh-pembuluh darah yang dilukis dengan begitu akurat. Di belakang kaca yang berbentuk cekung, terdapat rongga yang kira-kira cukup untuk menyembunyikan secuil kertas berisi informasi maha penting.

Melton juga menunjukkan sebatang lilin yang dulu pernah digunakan oleh KGB, agen rahasia Uni Soviet. Lilin tersebut berwarna hitam dengan panjang 30 cm. Dalam penglihatan, sama sekali tidak ada keistimewaan dari lilin tersebut yang berwarna hitam tersebut. 

Tapi itulah kehebatannya. "Lilin tersebut mungkin merupakan tempat penyelundupan dokumen penting paling rumit yang pernah diketahui di dunia ini," kat Melton. Jika dilihat secara sekilas, tidak ada satupun katup pembuka dibawah atau pun di bagian lilin lain. Ternyata lilin itu hanya dapat dibuka jika dipasangi baterai.

Tegangan listrik dialirkan melalui dua kutub yang berbeda, jarum beraliran listrik positif dimasukkan sedalam 2 cm ke sebuah titik tertentu pada lilin. Aliran listrik akan memicu sebuah motor listrik di dalam lilin sehingga bagian bawah lilin terbuka dan terkuaklah sebuah rongga dalam lilin yang cukup lapang untuk menyembunyikan sebuah kamera kecil dan sejumlah rol film.

Benda-Benda Dalam Dunia Spionase


Gambar Benda-Benda Dalam Dunia Spionase

Meski sampai sekarang dokumen rahasia dianggap yang paling dicari dan paling penting dalam dunia mata-mata, momen Perang Dunia II telah mengubah-ubah bentuk perkembangan dunia spionase. Benda itu berupa radio genggam yang mudah dibawa ke mana saja. radio genggam ini yang memungkinan seorang mata-mata mengirim kembali berbagai informasi yang dia dapatkan ke markasnya dengan seketika.

Melton menunjukkan sebagian koleksi radio mata-mata tua yang jumlahnya tidak tentu. Beberapa diantaranya berukuran cukup besar sehingga terlihat tidak mungkin dapat dimasukkan kedalam kabin pesawat terbang. namun pada masa itu, ukuran radio-radio tersebut tergolong kecil dibandingkan dengan radio pada umumnya.

John Brown, seorang tentara Inggris yang bertugas membaca sinyal, menciptakan "radio koper" pada tahun 1942. Radio tipe B MK II itu muat dalam sebuah koper kecil hitam dengan berat sekitar 15 kilogram. Tahun 1943, Brown berhasil menciptakan A Mk III, versi radio koper yang sama namun lebih ringan, seberat sembilan kilogram.

Di seberang deretan radio-radio dan peralatan canggih lainnya itu terdapat sebuah benda yang membuat tertegun. Sebuah Bra jala-jala berwarna tembaga. "Benda ini dulunya milik seorang mata-mata yang sangat tersohor di seluruh dunia," kata sang pemandu museum. Selembar foto memperlihatkan sosok seorang wanita seksi, bernama Mata Hari, pemilik bra tersebut.

Mata Hari adalah wanita penghibur kelas atas di era Perang Dunia I. Wanita Penggoda ini berusaha menjadi agen mata-mata ganda bagi Jerman dan Prancis, tapi usahanya gagal. Bra seronok milik Mata Hari itu adalah satu dari sedikit koleksi museum Melton yang berasal dari zaman Perang Dunia II. Sekitar 70% dari benda-benda koleksinya berasal dari era Perang Dingin, sedangkan yang berasal dari Perang Dunia II hanya 25% saja.

Perang Dingin dianggap sebagai puncak tempat pertukaran dan pencurian informasi di dunia spionase. Mereka yang berhasil mendapatkan informasi penting mengenai pihak-pihak musuh tidak akan terang-terangan mengobarkan perang. semuanya serba terselubung, keunggulan sebuah negara dari negara lain dilihat tidak hanya dari kekuatan Angkatan bersenjata tapi juga dari tingkat kelihaian mereka menyadap pembicaraan dan berkomunikasi secara tersembunyi-sembunyi.

Pada tanggal 4 juli 1945, dua bulan setelah Jerman menyerah pada Tentara Sekutu, Soviet Young Pioneer memberikan hadiah kepada W. Averell Hariman. Duta Besar Amerika Serikat Untuk Uni Soviet kala itu. Melton memperlihatkan replika lembaga negara Amerika Serikat yang dipahat dengan sangat indah di atas piringan kayu seukuran loyang pizza ukuran besar.

Hariman tidak sadar, di dalam piringan kayu tersebut terdapat resonator pemantul ruang yang bersifat pasif. alat tersebut berupa sebuah lempengan besi besar setengah uang kertas yang terkait pada tangkai logam yang melekat di bagian belakang lambang burung rajawali tersebut.

Hebatnya alat ini tidak membutuhkan tenaga listrik ataupun kabel untuk mengoperasikannya. Suara-suara yang terdengar di kantor duta besar tersebut akan tertangkap oleh sebuah sensor berwujud paruh rajawali dan diteruskan ke alat pemantul yang berfungsi seperti sebuah telinga yang lebar. Dari sebuah tempat tak jauh dari gedung kedutaan, para teknisi asal Soviet dapat mendengar percakapan yang terjadi di kantor Duta Besar melalui pemantulan gelombang radio yang dipancarkan oleh antena resonator itu.

Tujuh tahun kemudian, pihak Amerika Serikat mengetahui usaha penyadapan melalui suvenir berbentuk lambang negara tersebut. Sayang, mereka tidak tahu cara kerja alat canggih tersebut. Saat seorang agen rahasia M15 dari Inggris berhasil memecahkan cara kerja alat itu, Rusia telah maju beberapa langkah kedepan.

Ketika orang Amerika baru saja menemukan ide untuk menyadap percakapan dengan menghubungkan sebuah alat pendengar ke kabel telepon, para Ilmuwan Soviet sudah menemukan fakta bahwa sebuah gedung memiliki kemampuan pantulan alami. Dengan memantulkan gelombang infra merah pada sebuah kaca jendela di suatu titik tertentu, mereka dapat mendengarkan percakapan yang terjadi dalam sebuah ruangan di gedung tersebut.

Pihak Inggris ternyata melakukan hal serupa. Melton kemudian menghentikan langkah di depan sebuah replika kediaman agen KGB di kompleks komisi perdagangan Uni Soviet di London. Terlihat sebuah sensor gelombang yang diletakkan ke palang besi yang terdapat di sejumlah tiang-tiang gedung itu.

"Sensor-sensor tersebut mengubah seluruh tiang menjadi sebuah mikrofon raksasa yang menangkap suara dari segala arah," jelas Melton. Sambil berjalan dari satu ruangan ke ruangan ke ruangan lainnya, disana terlihat cerek logam, pena, kamera dan botol minuman kepunyaan Kim Philby, salah satu mata-mata Inggris paling hebat di abad ke-20. Lalu, siapa mata-mata Amerika Serikat yang paling ternama?. Melton menyebut nama Hanssen, yang mungkin merupakan satu-satunya mata-mata yang tidak harus diungkap jati dirinya kepada sang perantara. 

Selembar foto yang dijepret Melton memperlihatkan tempat Hanssen meletakkan dokumen-dokumen rahasia yang akan dipertukarkannya. Tempat tersebut membuktikan kemampuannya dalam memilih lokasi. Taman tersebut terletak dekat dengan tempat tinggal Hanssen yang nyaman sehingga tidak akan ada yang curiga kepadanya jika berkeliaran disitu.

Baca Juga Cara Mesin Google Menjawab Pertanyaan Orang Di Seluruh Dunia

Penutup

Pernahkah Melto mendapatkan suatu kejutan? jawabannya adalah sebuah kisah. Beberapa tahun lalu, ketika seorang Sovietologist (ahli masalah-masalah Uni Soviet), yang dikenalnya meninggal dunia, dia mewariskan beberapa benda kepunyaan Alexander Orlov kepada Melton.

Alexander Orlov, sebelum melarikan diri ke Amerika Serikat, merupakan seorang perantara berkebangsaan Soviet yang pernah bekerja pada Kim Philby dan sejumlah anggota dinas rahasia terkenal Cambridge Spy Ring. Saat Melton tengah berjalan menuju mobilnya, anak laki-laki sang Sovietologist tersebut menghampirinya dan berkata " Ayahku meninggalkan satu benda terakhir untuk anda". Melton segera bergerak menuju lemari kecil yang terletak diatas tiang penyangga. Dalam lemari kecil tersebut, terbungkus kertas putih, terdapat abu Orlov yang telah dikremasi dan Melton berkata " Arwah Alexander Orlov menjaga museum mata-mata ini".

Baca Juga Koleksi Museum Keris Nusantara Di Solo

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel